Rinn Says


I made this widget at MyFlashFetish.com.

Sunday, April 17, 2011

FF/2Shot : Oasis (1/2)

Title : Oasis (part 1 of 2)

Author : ND. Wulandari a.k.a Hyunae Shin

Genre : Romance, Mixed

Rating : PG 13

Length : Two Shot

Cast:

Yang Yoseob양요 (B2ST 비스트)

Son Dongwoon손동운 (B2ST비스트)

Yoon Doojoon두준 (B2ST비스트)

Lee Kikwang이기광 (B2ST비스트)

Yong Junhyung용준형 – Yonggun 용둔 (B2ST비스트)

Jang Hyunseung장현숭 (B2ST비스트)

Han Minji 한민지 a.k.a Niluh사악왐상

Yang Minrin 양민린 a.k.a Nisrina Dyah Wulandari

Yong Junhye 용준 – Yongyang 용양 a.k.a Asaa ‘teukkie’ Bianglala Eureka

Author Notes:

*****


Oh lonely night, it’s an endless and stuffy dark night

Those are the days when I cried alone during the dark nights

In lieu of the people

who would only hurt my callow heart (thanks a lot)

and my heart was having a draught

But that’s okay you make a way

The person who will be always guiding me is you, you you you

The only reason of living on you

Within my desert you are my Oasis, the sweetest chocolate...

*****

-Author POV-

“Selamat pagi semuanya... di akhir pekan yang indah ini kalian mendapatkan teman baru, dia murid pindahan dari GwangJu. Ah, sudahlah, biarkan dia mengenalkan dirinya sendiri pada kalian. Ehm... silakan masuk...”

Seorang gadis berambut hitam dikuncir samping memasuki ruang kelas dengan menunduk. Disela langkahnya ia membetulkan letak kacamata tebalnya yang turun ke ujung hidung. Langkahnya berhenti di samping Choi sonsaengnim yang berdiri di depan kelas.

“Silakan, perkenalkan dirimu..” perintah Choi sonsaengnim.

“Ne, sonsaengnim...” gadis itu mengangguk. Lalu mengangkat kepalanya menatap seisi kelas. “Annyeong hassimnikka, joneun Minrin imnida. Bangapseumnida.” gadis itu memperkenalkan dirinya dengan singkat. Seisi kelas bertepuk tangan menyambut kehadirannya.

“Baiklah, silakan duduk di sebelah Minji-ssi disana...” Choi sonsaengnim menunjuk bangku kosong di sebelah Minji yang berada di barisan paling belakang.

“Kamsahamnida, sonsaengnim.” gadis itu segera menempati tempat yang telah ditunjuk Choi sonsaengnim.

“Nah, sekarang kita akan melanjutkan pelajaran kemarin... buka buku kalian halaman....” Choi sonsaengnim memulai pelajaran hari ini.

Sementara itu, “annyeong hasseyo... Han Minji imnida, bangapseumnida, Minrin-ssi.” Kata Minji dengan memperhatikan teman barunya itu membuka buku.

“Annyeong. Minrin imnida, manasseo bangapseumnida. Jangan terlalu formal denganku, Minji-ah. Kita teman...” kata Minrin sambil tersenyum sekilas.

“Ah, ne~” Minji mengangguk-angguk mengerti.

“YA! Minji-ssi dan Minrin-ssi! Berkenalannya nanti saja! Buka buku kalian!” Choi sonsaengnim membentak Minji dan Minrin.

“Ne, sonsaengnim!” jawab keduanya serempak.

*****

Minrin hanya diam selama kelas berlangsung. Ia benar-benar serius mendengarkan materi yang disampaikan oleh Choi sonsaengnim. Mulutnya terkatup rapat. Matanya fokus pada Choi sonsaengnim dan tulisannya di papan tulis. Sekali waktu ia mencatat, dan ia membetulkan kacamatanya yang melorot ke ujung hidung karena ia menunduk saat menulis.

Kontras dengan teman sebangkunya, Minji. Ia hanya memandang kosong ke arah papan tulis, sesekali ia menguap, dan mengucek matanya pelan. Satu kata yang ada dalam benaknya, bosan.

*****

“Minrin-ah~” Bel akhir pelajaran telah berbunyi, rupanya Minji masih penasaran ingin mengenal gadis nerd itu lebih jauh.

“Ne, Minji. Waeyo?” jawab Minrin sambil mengemasi buku-bukunya.

“Rumahmu dimana? Apakah kita bisa pulang bersama? Aku ingin tahu rumahmu... jadi jika suatu saat kita ada kerja kelompok, aku tak perlu repot-repot mencari rumahmu.” Kata Minji panjang lebar.

“Apakah harus sekarang?” Minrin menjawab singkat sambil menekan-nekan ponselnya.

“Mmmm... tidak juga sih... tapi kan jika ada kerja kelompok aku bisa lebih mudah mencarinya...” Minji bingung menjawab pertanyaan Minrin. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Apakah akan selalu kita berdua?” Lagi-lagi Minrin menjawab –mungkin lebih tepat disebut sebagai pertanyaan— singkat.

“Kelas kita selalu begitu, Minrin-ah~ Choi sonsaengnim selalu memberi tugas kelompok dengan teman sebangku setiap akhir pekan atau jika ada libur panjang. Dan selama ini karena aku suka berpenampilan seperti namja dan duduk sendirian, aku selalu disuruh untuk bergabung dengan mereka oleh Choi sonsaengnim...” Minji menunjuk dua orang namja di depan kelas yang sedang meng-graviti papan tulis. “Kebetulan saja hari ini kita tidak dapat tugas.”

Minrin mengerutkan kening. “Geurae?”

“Ne, kau tidak percaya?” Minji tampak keheranan dengan sikap aneh teman barunya itu.

“Aaa~ ye...” Minrin kembali menyahut singkat.

“Oh, baiklah. Lalu bagaimana dengan pertanyaanku yang tadi? Apakah aku boleh tahu rumahmu?” Minji memakai tasnya. Bersiap pulang bersama teman barunya.

“Mianhae, Minji-ah. Kali ini kurasa bukan saat yang tepat. Lain waktu saja ya.” Minrin berdiri, “aku sudah dijemput, mianhae aku pulang duluan. Annyeonghi gyeseyo, Minji-ah.” Minrin melambai singkat pada Minji yang kebengongan.

Minji hanya bisa menatap teman barunya melangkah keluar kelas, namun langkahnya terhenti tepat di ambang pintu.

“Hey yo! Minrin-ah~! kau masuk kelas ini rupanya!” seorang gadis mungil menyapa Minrin dengan santai. Gadis itu berhenti untuk bercakap-cakap dengan Minrin.

“Hey ya, eonni! Yeah, kelasku disini. Kelasmu dimana?”

“Kelasku ada di lantai atas. You’re on your way to back home, right?

Yeah. How ‘bout you, sista?

“Aah~~ I’m going to meet with my Yonggunie somewhere. Kau mau ikut, eh?”

“Ani... aku tidak ingin mengganggu acara kalian berdua. Lagipula jika aku ikut bersama kalian, aku hanya akan menjadi obat nyamuk. Sungguh membosankan mendengarkan Yonggun oppa yang cerewet beradu mulut denganmu eonni...” Minrin memanyunkan bibir.

“Ya! Enak saja kau ini! Jaga bicaramu anak kecil!” gadis itu mencubit lengan Minrin.

“YA! Sakit tahu! Sudahlah pergi sana~~ nikmatilah harimu bersama Yonggun oppa...” Minrin mendorong tubuh gadis itu.

“Ara.. Ara... berhentilah mendorongku! Annyeong, Yang!” gadis itu menjulurkan lidahnya kearah Minrin, lalu buru-buru pergi.

“YAA! Jangan memanggil dengan margaku! Dasar Yongyang!” Minrin beranjak pergi –sepertinya mengejar gadis yang disebutnya dengan Yongyang.

Minji menatap heran dengan kejadian yang dilihatnya. ‘Bukankah Minrin baru saja pindah? Kenapa ia bisa sangat akrab dengan gadis itu? Bukankah gadis itu adalah Junhye sunbae? Oh mengapa Minrin bisa berbahasa inggris tanpa terbata seperti tadi? Bukankah ia seorang nerd? Jadi marganya Yang? Lalu siapa Yonggun? Siapa Yongyang?’

Puluhan –mungkin ratusan— pertanyaan berputar mengelilingi kepala Minji. Ia memegangi kepalanya, “aigooo~~ bisa-bisa aku gila memikirkannya...”

“ayayaaa~ kau belum pulang, uh?” salah seorang dari dua namja yang sedang meng-graviti papan tulis bertanya pada Minji.

“Tidak. Aku sudah pulang.” Minji menjawab dengan mengerucutkan bibirnya.

“Aaah~ nee~ ara... ara...” Namja itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“YA! Kau masih melihatku disini! Jelas aku belum pulang, babo!” Minji meremas kertas menjadi sebuah bola, lalu melemparnya tepat mengenai kepala namja itu.

“YA! Begitu saja kau sudah marah... mau pulang bersama tidak?” namja itu mendekati Minji.

“Huh. Baiklah, hari ini aku pulang bersamamu lagi... Ya Tuhan... Kapan aku bisa pulang bersama seorang yeoja? Aku bosan diantar pulang namja ini...”

******

Minggu pagi. Kebetulan hari ini Minji bangun lebih awal. Ia mengucek matanya. “Aigooo~ jam berapa ini?” ia melirik jam dinding di kamarnya. Pukul lima.

Ia beranjak. Melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tak lama kemudian ia keluar dengan kaos longgar dan celana training panjang.

“Aku benar-benar ingin jogging hari ini. Kurasa pagi ini akan menyenangkan.” Minji menyambar jaket tipis dan dipakainya. Lalu ia keluar dan mengunci apartemennya.

Minji mulai berlari kecil setelah ia berada di luar apartemen. Dengan lincah ia menyusuri jalan-jalan di sekitar apartemennya. Tak terasa langkahnya semakin jauh dari apartemen, namun kecepatan larinya tetap stabil.

Semakin jauh ia berlari kecil, hingga ia memasuki kawasan apartemen mewah yang masih sepi. Minji melambatkan laju larinya –ia berjalan, menikmati udara pagi dan memandangi bentuk megah apartemen itu dari jauh.

Minji membelokkan langkahnya ketika melihat sebuah Minimarket 24 Jam di sebelah bangunan apartemen. Ia membeli sebotol air mineral, dan meneguknya dengan duduk di bangku panjang yang ada di depan minimarket. Sambil meneguk ia memandangi jalanan yang mulai dilintasi satu-dua mobil berkelas.

Sebuah mobil hitam mewah dengan kecepatan sedang berhenti di depan Minimarket, tepat di depannya. Beberapa detik kemudian seorang gadis berpakaian casual memakai kacamata hitam dengan perawakan cukup tinggi –sekitar 167 cm, keluar dengan langkah yang agak terburu dari pintu utama apartemen. Tangan kanannya memegang ponsel, sementara tangan kirinya menjinjing koper berukuran sedang.

“Ne, oppa. Ini aku sudah di luar. Cepat kemari. Koperku berat tahu! Araaa~~” gadis itu menutup sambungan teleponnya. Minji memicingkan mata. Sosok gadis itu lumayan familiar di matanya. Siapa dia? Minji masih mencoba mengingat sosok itu.

Mobil hitam di depannya melaju. Mata Minji mengikuti arah laju mobil itu. Benar saja. Mobil itu kembali berhenti di depan pintu utama bangunan apartemen. Kemudian seorang namja juga dengan kacamata hitam turun dari mobil. Melangkahkan kakinya cepat mendekati gadis yang tadi meneleponnya.

Minji sedikit kaget dengan keluarnya namja itu. Bukan karena mobil mewah dan kacamata hitamnya. Bukan karena bajunya yang simple –kontras dengan mobil serta gadisnya, tapi karena wajahnya. Minji hafal betul dengan wajah itu.

Wajah itu milik seorang yang selalu dilihatnya di televisi, di laptop, dan di poster-poster besar yang ada di kamarnya. Wajah itu milik seorang yang bersuara indah yang selalu didengarnya setiap ada kesempatan, ia bahkan memiliki koleksi mini-album yang lengkap dari grup pemilik wajah itu. Dia Yang Yoseob, member dari grup B2ST!

“Cepat masuk, sebelum banyak orang.”

“Ne, oppa.”

Percakapan pendek mereka pelan, namun cukup untuk ditangkap pendengaran Minji. Ia menganga melihat Yang Yoseob, sang idola, membawakan koper gadis itu dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.

Yoseob membukakan pintu untuk gadis itu, lalu ia sendiri masuk ke mobil di bagian kemudi. Gadis itu pun segera masuk ke dalam. Gadis itu sempat melepas kacamata hitamnya tepat sebelum ia menutup pintu, dan berhasil membuat Minji melotot dan memekik tertahan, “Yang Minrin!”

*****

Minji telah berada di kamarnya. Berbaring di kasur memandangi poster-poster besar yang terpajang di dinding. Di kepalanya masih penuh dengan pertanyaan tentang Minrin.

Tentang tampilannya yang nerd, lalu tentang keakrabannya secara tak wajar dengan Junhye eonni –mengingat keduanya sama-sama orang yang tertutup. Dan tentang keluarnya ia dari apartemen mewah itu, tentang penampilannya yang tak lagi nerd seperti kemarin, saat kemunculan pertamanya di kelas –oke kurasa masih bisa dianulir.

Namun bagaimana dengan kemunculan Yoseob untuk menjemput dan membawakan kopernya di depan apartemen. Bagaimana dengan panggilan Minrin tadi? Oppa? Bagaimana dengan perkataan Yoseob tadi, --errr apa yang dikatakan Yoseob tadi? Ah, “sebelum banyak orang”? Apa hubungannya dengan Minrin? Eh, tunggu. Yang Minrin, Yang Yoseob. Marganya Yang. Apakah mereka...

So beautiful my girl.. oh oh girl, oh oh girl.. sigani jinado...

Nuguboda naega deo deo deo...

Ponsel layar sentuhnya berdering. Segera saja ia menyambar ponselnya. Nomor tak dikenali menghubungi ponselnya. Minji mengangkat alisnya sebelah. Tak ambil pusing, ia menekan tombol penjawab dan menempelkan ponselnya di telinga.

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo, Minrin-ah. Annyeong. Ini aku, Minrin.” Otak Minji langsung tersambung dengan peristiwa tadi pagi. Minrin dengan kopernya, bersama Yoseob-nya sebagai supir.

“Minji? Minji-ah~~ apakah kau ada disana?” suara melengking Minrin cukup untuk membuat Minji tersadar dari lamunannya.

“Ah, ne, Minrin-ah. waeyo?”

“Mmmm... begini Minji-ah. Apakah pertanyaanmu kemarin masih berlaku?” pertanyaan Minrin membuat dahi Minji mengerut.

“Eh? Pertanyaan yang mana ya? Aku lupa...”

“Kemarin kau bilang ingin ke rumahku. Ya kan? Kau ingat tidak?” Minrin mencoba mengingatkan.

“Aaaah~ ye. Ye. Aku ingat tentang itu.” Minji mengangguk-angguk. Padahal jelas Minrin tak akan melihat anggukannya dari ujung telepon –kecuali jika mereka menggunakan fasilitas 3G.

“Apakah kau mau ke rumahku? Mianhae dengan sikap dinginku kemarin, Minji-ah... aku kemarin benar-benar masih canggung dengan lingkungan baruku...” Minrin merayu.

“Tentu, aku ingin ke rumahmu Minrin-ah. Gwenchanna, aku mengerti...” Minji cepat menyetujuinya, otaknya masih terhubung dengan misteri pemilik marga Yang ini. Siapa tahu jika ia ke rumah Minrin, ia akan bertemu dengan Yoseob? Who knows?

“Ah, daebak. Kalau begitu datanglah ke rumahku. Alamatnya...” Minrin mendiktekan alamat rumahnya dan Minji langsung menyambar bolpoin di meja belajarnya, dan mencatat alamat Minrin di telapak tangannya. Minji mengernyit, kenapa bukan alamat apartemen mewah itu?

“Arasseo. Kapan aku bisa ke rumah mu Minrin-ah?”

“mmm... sekarang juga bisa, kok... seharian ini aku akan berada di rumah. Pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu, Minji-ah..” terdengar tawa pelan di ujung telepon.

“Ah~ ne~ baiklah, aku akan berangkat sekarang. Tunggu aku ya!” ujar Minji bersemangat.

“Ne, Minji-ah. Aku tunggu ya...” Minrin memutus sambungan teleponnya.

Minji segera beranjak ke kamar mandi untuk mengganti bajunya. Lalu ia keluar dan menyambar tasnya, mengecek dompet, dan meninggalkan kamarnya. Ia keluar dan mengunci pintu apartemennya. Minji sedang tinggal sendiri saja satu bulan ini. Karena appa dan eomma-nya mempunyai urusan yang tak diketahuinya di luar kota.

*****

Minji turun dari bis, ia masuk ke dalam gang di dekat halte. Kepalanya tak berhenti menoleh ke kanan-kiri saat menyusuri jalan sempit itu. Ia berhenti sejenak ketika mendapati gang itu ternyata bermuara pada jalan perumahan yang cukup lebar.

Ia berbelok ke kiri –sesuai arahan Minrin tadi di telepon. Kata Minrin ia harus ambil jalan ke kiri sekali lagi dan berhenti, karena di situlah rumah Minrin berada. Tapi sebelum Minji benar-benar belok ke kiri untuk kedua kalinya, sebuah mobil hitam mewah yang dilihatnya tadi pagi melintas.

“Tepat seperti dugaan.” Ujung bibir Minji sedikit tertarik ke kanan.

Minji membelokkan langkahnya. Sebuah rumah dengan aksen khas Korea menanti di sebelah kiri. Minji menekan bel yang ada di pintu pagar tinggi yang terbuat dari kayu.

Ting Tong.

Seorang gadis sedikit terburu keluar dari rumah untuk membukakan pagar.

“Ah, eoseo oseyo... Silakan masuk Minji-ah, anggap saja seperti rumah sendiri...” kata Minrin seraya membukakan pagar.

“Ne, gomawo Minrin-ah...” Minji mengikuti gadis berkacamata tebal itu masuk ke dalam rumah.

Mereka masuk ke dalam rumah yang bergaya modern yang dipadu dengan sentuhan-sentuhan khas arsitektur tradisional Korea. Pepohonan rindang memayungi taman kecil di pekarangan rumah, dapat dilihat dari ruang tamu yang begitu cozy –seperti oasis. Begitu terasa tenang dan damai. Minji cukup menikmati menghirup udara segar, seakan akan sedang berada di vila pegunungan.

“Silakan duduk Minji-ah, aku ambilkan minuman dulu ya..”

“Ne, tidak perlu repot...” Minrin hanya membalas dengan senyuman kecil dan pergi ke dapur untuk mengambil minum dan sedikit makanan kecil.

Minji teringat sesuatu, yaitu sejuta tanyanya tentang Minrin, yang sudah menumpuk dipikirannya sejak kemarin. Minji berdiri dari duduknya, memperhatikan sedikit demi sedikit barang-barang yang terlihat di ruang tamu.

Mulai dari vas bunga dan guci antik yang ada di dekat tempat duduknya. Meja, lemari, dan jam dinding yang tak kalah antik dari dua barang sebelumnya. Hingga foto pernikahan sepasang suami istri yang ada di dinding ruang tamu –tak ada yang memberi petunjuk untuk menjawab pertanyaannya.

“Mianhae membuatmu menunggu lama, Minji-ah...” Minrin masuk ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi minuman dan makanan kecil.

“Gwenchanna Minrin-ah,” Minji duduk kembali, ia mengambil posisi di depan Minrin.

“Silakan dinikmati, Minji-ah..”

Minji hanya mengangguk, ia mengambil gelas berisi minuman berwarna jingga dengan bongkahan-bongkahan kecil es; dapat dipastikan sebagai jus jeruk. Ia meneguknya.

“Minrin-ah, apa kau tinggal sendiri disini?” Minji meletakkan kembali gelas yang isinya telah berkurang seperempat dari bagiannya.

“Aniyo. Aku tinggal bersama keluargaku. Tapi sayangnya kali ini kau belum bisa bertemu dengan mereka, Minji-ah. Mereka sedang berada di Jepang.”

“Ah, ne... Lalu apakah itu adalah appa dan eomma-mu?” Minji menunjuk foto sepasang pengantin yang sempat diperhatikannya tadi.

“Ye. Mereka kedua orang tuaku...”

*****

When you found out that I ran away

Were you disappointed

I had courage to come back because you were there

You’re the one always in my heart

*****

“Yoseobie, gwenchannayo?” seorang namja bertubuh atletis memukul kecil pundak Yoseob.

“Gwenchanna.” Yoseob memalingkan wajahnya kearah lain.

“Tapi raut wajahmu mengatakan sebaliknya, hyung.” Seorang lagi yang memiliki tinggi tubuh 181 cm mendatanginya.

“Ye. Katakanlah, Seobie. Kami sudah tak tahan lagi melihat perubahan sikapmu yang seperti itu.” Sang leader yang sudah duduk lebih lama membuka suara.

“Kami merindukan member kami yang suka ber-aegyo itu...” pemilik suara cadel ikut meramaikan pembicaraan.

“Ceritakanlah kepada kami, Yoseobie...” seorang member B2ST lagi turut serta.

“Apa yang ingin kalian ketahui dariku?! Tidakkah cukup kalian bahagia melihatku menderita?! Ssshh!” Yoseob beranjak dari tempatnya dan keluar entah kemana.

BLAM.

Pintu dorm ditutup dengan amat keras oleh Yoseob.

Semua member saling bertatap muka. Mereka melirik satu sama lain, berkomunikasi tanpa suara.

*****

When I was standing at the end of the world and couldn’t see the path

I needed someone

When I was trapped in the darkness and couldn’t see the light

I was waiting for the helping hand

You wouldn’t know that you are the only one in the world

Who is the only one better than the world

*****

“Annyeonghi gyeseyo...” Minji berpamitan pulang pada Minrin.

“Annyeonghi... Jalkka!” Minrin melambaikan tangannya dari depan pagar. Ia masih menatap punggung Minji yang semakin jauh –lantas menghilang setelah belokan.

Minrin menghembuskan nafas berat, seraya melepas kacamata yang selalu membingkai penyamarannya. Ia kembali masuk ke dalam, duduk di teras rumah.

Ia merogoh sakunya. Mengambil kotak kontak lensa mata dan memakainya. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumah. Minrin beranjak membuka pagar.

“Oppa.. kenapa wajahmu seperti itu?” Minrin menyambut oppa-nya yang datang dengan wajah yang kusut.

“gwenchanna, Minrin-ah. aku hanya ingin istirahat.” Kata Yoseob lemas.

Yoseob masuk ke dalam rumah, menghempaskan tubuhnya pada lantai kayu yang mendasari ruang tamu. Yoseob memegangi kepalanya, sudah sangat penat pikiriannya saat ini. Cukup baginya perih hati yang telah membuatnya berubah seperti saat ini. Perih ditinggal kekasih yang dialaminya kini memang seperti kisah-kisah picisan yang sudah ada sebelum kau lahir.

Tapi kisah ini benar-benar terjadi. Yoseob memandang hampa langit-langit ruang tamu. Menimbulkan fatamorgana dalam benaknya, kenangan bersama kekasihnya berkelebat cepat dalam pikirannya. Kenangan-kenangan indah waktu itu, yang hanya terjadi sekali dalam hidup. Kau tak akan bisa mengulanginya. Kau hanya bisa membuat kenangan indah baru lainnya.

“Oppa, minumlah dulu.” Minrin menyodorkan segelas air mineral pada Yoseob.

“Gomawo, Rin..” Yoseob meneguk airnya sekali. Lalu meletakkan gelas itu di sampingnya.

“Oppa, apa kau belum bisa melupakan Gayoon eonni?” Yoseob sedikit bergetar mendengar nama itu lagi. Nama yang sudah membuatnya hancur seperti saat ini. “Oppa.. lupakanlah dia. Gayoon eonni sudah memilih sesuai keinginan hatinya. Relakanlah dia, oppa. Masih banyak gadis lain diluar sana...”

“Ye. Aku tahu, Rin. Tapi hati ini.. masih sakit jika aku mengingatnya.” Yoseob menutupi wajah dengan telapak tangannya. “Yoon-ah... entah apa yang ada dalam pikiranmu, jagi...”

“Sudahlah, oppa... apakah oppa rela menghancurkan kebahagiaannya saat ini? Lihatlah senyumnya, oppa... begitu tulus dan bahagia.” Minrin memperlihatkan undangan pertunangan Gayoon dengan seorang namja yang masih asing wajahnya. Minrin dan Yoseob tidak terlalu mengenal namja itu. Wajahnya terlalu dewasa.

Yoseob menatap undangan itu, mengalihkan kertas itu pada tangannya. Ia hanya menatap sendu wajah Gayoon yang tersenyum. Semakin miris hatinya, semakin merah kedua matanya. Lama kelamaan ia tersenyum tulus, yang disertai setetes air mata dari sudut matanya.

“Gayoon-ah, berbahagialah...”

Sebuah senyum terkembang pada bibir Minrin. Akhirnya semua usaha yang telah dilakukannya tak sia-sia. Yoseob merelakan Gayoon. Sekarang yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana cara membuat oppa-nya yang tercinta itu bisa kembali merasakan cinta.

“Rin-ah, ayo siapkan beberapa pakaianmu dan seragam sekolah yang akan kau pakai besok. Setelah aku mandi, kita berangkat. Kkaja!” Yoseob berdiri dan menuju ke kamar mandi dengan semangat.

“Mwo? Kita mau kemana, oppa?” Minrin keheranan dengan sikap oppa-nya yang kembali berubah. Namun di lain sisi ia senang karena oppa-nya kembali menjadi seorang Yoseob yang penuh semangat dan selalu bahagia.

“Kita akan tinggal di dorm B2ST untuk beberapa hari, tak perlu tinggal di apartemen kita atau di rumah nenek ini. Dan aku ingin meminta maaf pada member B2ST atas sikapku akhir-akhir ini yang selalu menyalahkan mereka semua. Ayoo cepat~ Ppalli!” Yoseob kembali kehadapan Minrin dan menarik tangan Minrin agar berdiri.

“Omonaaa... Bagaimana dengan temanku tadi, uh?” Minrin berdiri atas bantuan Yoseob.

“Eh? Kau punya teman? Bukannya kau seorang nerd?” Yoseob melirik dongsaeng-nya dengan tatapan merendahkan.

“YAAA! Oppaa~ kau jahat sekali!” Minrin memukuli lengan Yoseob, “walaupun aku menyamar sebagai nerd, tapi kenyataannya aku punya teman juga, tahu!”

Yoseob terkikik. “Ye, ye, ye~ aku sebenarnya bangga memiliki dongsaeng sepertimu. Sebelumnya aku kira kau tidak bisa punya teman, karena kau dari kecil sudah home-schooling. Tapi dugaanku itu salah besar ya.” Yoseob mengacak rambut dongsaengnya pelan.

“Tentu. Siapa dulu dong...” ujar Minrin berbangga.

“Ne, dongsaengku sayang... Sudah cepat siapkan bajumu. Ppalli!”

*****

Suasana dalam dorm B2ST benar-benar tenang pasca latihan. Sang leader, Doojoon, masih sibuk dengan ponsel dan earphone-nya di tempat tidur. Hyunseung masih serius bersama Dongwoon bermain game Winning Eleven, yang notabene adalah game favorit semua member B2ST karena hanya game itu yang bisa mereka mainkan. Kikwang sedang bersama Junhye –adik kembar Junhyung, bersantai di depan televisi. Sedangkan Junhyung sendiri masih berkutat dengan cucian piring yang menggunung di dapur sembari merutuk dalam hati.

Namun ketenangan itu cepat saja terusik karena kehadiran kakak beradik Yang Yoseob dan Yang Minrin, yang datang dengan membawa sekotak besar donat.

“Annyeong semuanyaaaaaaa~~ cepat kemari, lihat apa yang kubawa untuk kalian semua!” Yoseob berteriak saat memasuki ruang depan dorm.

Doojoon, Hyunseung, Dongwoon, Kikwang, dan Junhye bergerak cepat menuju ruang depan. Kecuali Junhyung yang tidak tertarik untuk melihat apa yang dibawa Yoseob, ia lebih memilih untuk meneruskan ritualnya mencuci piring.

“Uwaaaaaaaah~~” Mata mereka berbinar melihat keindahan kotak donat itu, –eh, mata mereka berbinar membayangkan seberapa banyak donat yang ada dalam kotak besar itu. Tangan kanan keempat namja dan seorang yeoja itu terarah ke depan bersamaan –seperti akan melakukan satu part dance ‘Shock’, berusaha meraih kotak donat yang diperlihatkan Yoseob.

“Ya! Tunggu dulu!” Yoseob menyingkirkan kotak donat itu dari hadapan mereka. Wajah keempat namja dan seorang yeoja itu berubah lightless seketika. “Aku ingin menjelaskan sesuatu pada kalian semua. Dan kebetulan kalian semua sudah lengkap disini. Tunggu, dimana Junhyung, Hye?”

“Yong sedang mencuci piring. Panggillah dia di dapur, Rin. aku sudah tak sabar ingin membuka kotak itu~” Junhye tetap menatap kotak donat itu.

“Arasseo...” Minrin melangkah gontai menuju dapur. Disana ia melihat sosok Junhyung yang sedang mencuci piring dalam diam.

“Oppa~ ayo ikut bersama kami di ruang depan~ kkaja!”

Junhyung menoleh ke asal suara. “Eh—kapan kau kemari, Rin? Jamkaman, aku bersihkan tanganku dulu ya.”

Minrin meninggalkan Junhyung yang masih mencuci tangan. Ia kembali ke ruang depan. Herannya suasana sudah berubah hening. Dan Doojoon, Hyunseung, Yoseob, Kikwang, Dongwoon, serta Junhye telah duduk melingkar di lantai. Ia ikut duduk disamping Yoseob. Tak lama kemudian Junhyung datang dan bergabung bersama mereka.

“Sebenarnya aku ingin meminta maaf kepada kalian semua. Mianhae beberapa minggu ini selalu memarahi kalian tentang hal-hal yang seharusnya tidak berhubungan dengan kalian. Aku menyadari kalau apa yang kalian lakukan selama ini merupakan usaha kalian untuk menyadarkanku. Jeongmal mianhae karena semua kesalahanku...” Yoseob menundukkan kepalanya sedalam mungkin.

“Sudahlah, kami tahu bagaimana perasaanmu. Tak perlu meminta maaf kepada kami, Seobie. Yang terpenting kau sudah kembali seperti Yoseob yang kami kenal.” Doojoon mengeluarkan kharismanya disaat yang tepat. Membuat semua yang ada dalam ruangan itu tersentuh.

Semua member berbondong-bondong memeluk Yoseob bergantian. Suasana kembali menjadi akrab. Yoseob telah kembali seperti sedia kala.

“Tunggu, kita sedang membicarakan apa sih? Tentang Yoseob dan Gayoon ya?” Kikwang memecah suasana.

“Dari tadi kita membahas itu, babo!” Doojoon, Hyunseung, dan Junhyung serempak.

Kikwang hanya mengangguk pelan dalam ketidakpahamannya. Semua hanya menatap Kikwang penuh tanya, kenapa ada ciptaan Tuhan yang seperti itu? Namun keheranan itu tak berlangsung lama. Suasana cair dalam gelak tawa di antara mereka.

*****

Semburat sinar matahari terbenam terlukis indah di langit senja kali ini. Member B2ST sedang dalam aktivitasnya masing-masing –mirip seperti tadi pagi. Yoseob sedang bersama laptopnya, menjelajah dunia maya untuk menemukan kabar-kabar terbaru tentang dirinya sendiri pada halaman-halaman di internet. Doojoon menggantikan posisi Dongwoon sebagai rival Hyunseung bermain game dari play station mereka.

Kikwang tetap dan masih bersama Junhye seperti tadi pagi, bersantai di depan televisi. Bedanya kali ini Junhyung sedang tidak cuci piring lagi, tapi mengawasi adik kembarnya berbincang dengan Kikwang dari jarak beberapa meter. Dan Dongwoon sedang mengajari soal-soal yang tak dipahami Minrin dari buku sekolahnya.

“Aah~ oppa, aku mengantuk... bisakah kita belajar yang lebih ringan saja? Otakku sudah lelah belajar hitungan dari tadi...” Minrin meletakkan pensilnya dengan kesal.

“Ne, sebenarnya aku juga sudah bosan melihat angka-angka ini, Rin.” Dongwoon mengucek matanya.

“Bagaimana kalau kita bermain kartu saja?” Junhyung beranjak dari tempatnya, beralih pada meja yang di tempati Dongwoon dan Minrin karena ia telah merasa adiknya aman bersama Kikwang.

“Ne! Idemu bagus juga, oppa!” Minrin ber-hi-five dengan Junhyung.

“Andwaeeeee!!! Dongsaengku besok harus sekolah! Kalian tega mengajaknya bermain kartu, hah?” Yoseob mendekat.

“Apa tadi kalian bilang? Main kartu? Apa aku boleh ikut?” Kikwang dan Junhye bergabung bersama mereka.

“Yaaaaa~ jangan lupakan kamiii! Jamsiman!” Doojoon dan Hyunseung buru-buru mematikan play station dan ikut dalam keramaian.

“Kenapa semuanya kemari? Aku kan masih belum setuju kalian bermain kartu!” Yoseob ribut sendiri.

Junhye, Minrin, dan member B2ST yang lain –kecuali Yoseob, saling pandang. Tiga detik kemudian Junhyung mengeluarkan satu paket kartu bridge dari saku celananya dan memulai permainan.

“YAA! Aku tidak merestui permainan ini jika aku tidak diajak!” semua mata tertuju pada asal suara. Yoseob, si asal suara, hanya nyengir dan memperlihatkan aegyo-nya.

*****

You are the long waited rain in my draughty day. You soaked my heart and gave me courage

You make me fly and smile again

Coming into my arms and giving happiness silently just like a rainbow after a shower

*****

Di hari sabtu, minggu berikutnya. Minji dan Minrin semakin akrab. Teman-teman sekelasnya mulai memanggil mereka dengan sebutan pairing ‘Two-Min’. Han Minji. Yang Minrin.

Hanya dalam seminggu mereka bisa akrab dan bersahabat. Berbagi kisah-kisah lucu dan aneh yang seringkali membuat Minrin tertawa habis-habisan hingga menangis, namun terkadang juga kisah-kisah menyedihkan dan menyayat hati yang membuat mereka menangis habis-habisan hingga tak ada yang bisa membuat mereka tertawa.

Namun satu hal yang masih belum diketahui oleh Minji tentang Minrin. Yaitu kebenaran Yoseob sebagai kakak kandung Minrin.

*****

Sore harinya sepulang sekolah, ketika Minji sudah bersantai di rumahnya yang masih sepi. Ponselnya bergetar dua kali, sebuah pesan singkat masuk. Minji membaca pesan singkat itu. Pandangan matanya berubah malas ketika mengetahui isi pesan itu adalah tugas akhir pekan yang di-forward dari nomor ponsel Choi sonsaengnim.

Minji mencari kontak Minrin di ponselnya, sambil berjalan keluar menuju halte di dekat rumahnya, lalu menekan opsi call.

“Yeoboseyo, Minrin-ah..”

“Yeoboseyo, Minji-ah. kau pasti ingin bertanya tentang tugas kelompok itu ya?”

“Ne. Kau sudah tahu rupanya. Aku ke rumahmu sekarang ya.” Minji naik ke dalam bis terakhir hari itu.

“Eh? Bukankah ini sudah terlalu malam, Minji-ah? Aku saja yang ke rumahmu. Bagaimana?”

“Tidak apa-apa, aku menginap di rumahmu ya. Sekarang aku sudah di bis. Tunggu aku, arasseo?” Minji sedikit memaksa.

Minrin menepuk dahi. “ah, ne~ arasseo...”

*****

“Oppaaaaa~~! Antarkan aku ke rumah nenek sekarang... keadaan bahaya!” Minrin berteriak memanggil Yoseob yang masih di kamar mandi.

Yoseob keluar dari kamar mandi dengan pakaian seadanya; kaus longgar putih dengan celana pendek selutut serta handuk yang mengalung pada lehernya.

“Memangnya ada apa?” wajah Yoseob berubah agak tegang.

“Temanku akan ke rumah... dia bilang mau menginap... omonaaaa... ppali oppaaa~! Antarkan aku!”

Yoseob menyambar tasnya dan kunci mobil, mereka berdua langsung menuju mobil.

“Jamsiman! Kalian mau kemana malam minggu seperti ini?” Doojoon menghentikan langkah Yoseob dan Minrin.

“Kami mau ke rumah. Maaf kami buru-buru. Annyeong!” Minrin menyahut cepat.

“Andwaeeeeeeeeeeee! Kalian tidak bisa keluar pada malam minggu!”

“Kita kan sudah sepakat, setiap malam minggu kita akan berkumpul bersama.” Si kembar Yonggun – Yongyang menimpali.

“Aigoooo~ ini penting, eonni... kalau tidak, status kalian akan terbongkar karenaku... ayolah!” Minrin merajuk pada Junhye.

“Andwae. Sekali tidak boleh, tetap tidak boleh.” Hyunseung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Sebegitu pentingkah, Rin?” Dongwoon hanya berkomentar singkat.

“Ne, oppa~ atau temanku itu akan tahu kalau aku adalah bagian dari kalian, B2ST... beberapa hari ini dia sudah mulai curiga terhadapku...”

“Hmm... dia sahabatmu kan? Bagaimana kalau...” Dongwoon memegangi dagunya.

“Kita semua ikut menginap di rumah Minrin dan Yoseob!” Kikwang akhirnya bersuara.

“Eh?” lagi-lagi semua mata tertuju pada Kikwang.

“Yeah!”

“Kita ikut menginap!!!” sahut Doojoon, Hyunseung, Junhyung, Junhye, dan Dongwoon serempak.

“YAA!!! Kalian gila!” Minrin lemas menghadapi kegilaan oppadeul-nya.

*****

Minji telah berada di depan pagar rumah Minrin lebih dari sepuluh menit. Tapi tak ada seorang pun yang membukakan pintu untuknya. Minji melirik jam tangannya, benar-benar tak mungkin untuk kembali pulang. Sudah tak akan ada bis yang menuju rumahnya.

Selang beberapa menit kemudian, dua buah mobil berhenti di depan Minji. Ia hanya mengernyit. Lalu dari tiap-tiap mobil keluar namja-namja yang sama sekali tak di duga oleh Minji.

Doojoon... Hyunseung... Junhyung... Kikwang...

Keempat namja itu keluar dari mobil pertama dengan senyum mematikan. Minji hanya menganga melihat keempat idola yang dipujanya berdiri beberapa meter didepannya.

Lalu Minrin keluar dari mobil kedua bersama Junhye dan Dongwoon. Dan yang terakhir keluar adalah Yoseob. Yang Yoseob.

“Annyeong, Minji-ah. Maaf membuatmu menunggu lama.” Minrin membungkuk di depan Minji yang masih penuh tanya.

“A-a-annyeong... Gwenchannayo..” Minji menatap heran pair-nya yang tidak dalam tampilan nerd seperti di sekolah. Minrin yang dilihatnya saat ini begitu stylish.

“Kau masih heran ya? Baiklah, kita bicarakan di dalam saja. Kkaja!”

*****

“Jadi sebenarnya aku adalah adik dari Yoseob oppa, lalu Junhye eonni atau yang biasa aku panggil dengan Yongyang, adalah adik kembar dari Junhyung oppa. Lalu mereka adalah oppadeul-ku.”

Minji hanya mengangguk dalam ketidakpahamannya –persis seperti Kikwang.

“Kwang, sepertinya kau cocok dengannya.” Hyunseung menyenggol siku Kikwang. “Ekspresinya mirip sekali denganmu.”

Member yang lain menahan tawa melihat ekspresi baru dari Kikwang. Ia melirik Junhye yang menatap sinis pada Hyunseung.

“Ah, ne~ baiklah, Kikwang milikmu Hye...” Hyunseung menghentikan tawanya.

“Sudahlah oppadeul! Kalian ke lantai dua saja! Aku dan Minji akan mengerjakan tugas terlebih dahulu.” Minrin mengibaskan tangannya pada para pembuat onar itu.

“Okeeeee~~ jika ada kesulitan, kami siap membantu.” Dongwoon mengeluarkan wink-nya pada Minrin, membuat Minji hanya bisa menelan ludah.

Seluruh member B2ST ditambah dengan Junhye beralih ke lantai dua, menyisakan Two-Min-Couple di ruang tengah lantai dasar.

“Minji-ah. ku harap kau bisa merahasiakan ini dari teman-teman sekelas.” Minrin agak serius menatap Minji.

“Ne, aku akan merahasiakannya.” Minji mengangguk mantap.

“Baiklaaaah~ ayo kita kerjakan tugas ini!”

*****

Yoseob turun dari lantai dua di tengah malam untuk mengambil air minum di dapur. Sewaktu melintas ruang tengah, ia melihat dongsaengnya yang telah tertidur di sofa, sedangkan Minji tertidur sambil duduk dengan masih memegang pensil.

Yoseob membatalkan niatnya untuk mengambil air minum, ia beralih mengambil dua buah selimut untuk dongsaeng dan temannya. Yoseob menyelimutkan selimut polkadot pada Minrin, lalu menggendong tubuh Minji ke sebuah sofa lagi yang ada tepat didekat Minrin. Lalu Yoseob juga menyelimuti Minji dengan selimut yang bermotif sama dengan selimut Minrin.

Yoseob memandang teman dongsaengnya itu cukup lama. Matanya menelusuri senyum yang dibingkai wajah polos Minji yang sedang tidur, mengingatkannya pada seseorang yang telah meninggalkannya, Gayoon.

“Yoon-ah...” Yoseob secara tidak sadar memegang pipi Minji.

Minji menggeliat. Ia membuka matanya perlahan. Pandangan matanya masih tak sebegitu jelas. Namun samar-samar ia dapat melihat sosok namja yang memegang pipinya... Yoseob!

“Aigo!” Minji tersentak dari tidurnya.

“A... a... mianhae... aku tidak sadar. Maafkan aku, Minji-ah.” Yoseob menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “A... aku.. aku suka senyummu ketika tidur...”

Kedua mata Minji melebar otomatis.

“Sepertinya aku mulai suka denganmu...”

Minji semakin tidak bisa percaya dengan pendengarannya sendiri.

******

Oasis

B2ST

When I was standing at the end of the world and couldn’t see the path

I needed someone

When I was trapped in the darkness and couldn’t see the light

I was waiting for the helping hand

You wouldn’t know that you are the only one in the world

Who is the only one better than the world

I believe dream for you and me

You are the long waited rain in my draughty day. You soaked my heart and gave me courage

You make me fly and smile again

Coming into my arms and giving happiness silently just like a rainbow after a shower

I wanna make a love

When you found out that I ran away

Were you disappointed

I had courage to come back because you were there

You’re the one always in my heart

I believe dream for you and me

You are the long waited rain in my draughty day. You soaked my heart and gave me courage

You make me fly and smile again

Coming into my arms and giving happiness silently, just like a rainbow after a shower

I wanna make a love

Oh lonely night, it’s an endless and stuffy dark night

Those are the days when I cried alone during the dark nights

In lieu of the people

who would only hurt my callow heart (thanks a lot)

and my heart was having a draught

But that’s okay you make a way

The person who will be always guiding me is you, you you you

The only reason of living on you

Within my desert you are my Oasis, the sweetest chocolate

I believe dream for you and me

You are the long waited rain in my draughty day. You soaked my heart and gave me courage

You make me fly and smile again

Coming into my arms and giving happiness silently, just like a rainbow after a shower

I wanna make a love

No comments:

Post a Comment