In a world without you
I would always hunger
All I need is your love to make me stronger
*********
Title: When You Tell Me That You Love Me
Author: ND. Wulandari a.k.a Shin Hyunae
Genre: Romantic, AU
Rating: PG 13
Length: Oneshot
Cast:
Yang Minrin a.k.a Nisrina Dyah Wulandari
Han Minji a.k.a Niluh 사악왐상
Author Notes:
Annyeong! ^^ lama tak menyapa readers ya! Kali ini aku bawa oneshot, castnya B2ST... hahaha... terobosan nih, efek samping nonton MV nya yang Beautiful ^^
Oke ga banyak cingcong, lets read... ^^
**********
"Rin..."
"Aku tahu kau tidak akan pernah menerima cintaku, Woon..."
"Rin..."
"Baiklah, aku akan pergi dari sini... annyeonghi gyesseyo, Woon..."
"Rin! Yang Minrin!"
**********
-Minrin POV-
Dua tahun berlalu setelah kejadian itu. Kejadian yang amat sangat aku sesali. Seharusnya aku bisa menahan diri sebentar saja, pasti hasilnya tidak akan seburuk saat itu. Sudahlah. Itu cerita lama.
Sekarang aku harus kembali dengan pekerjaanku. Mengedit cover majalah yang akan terbit minggu depan. Ya, aku seorang penata coversekaligus editor sebuah majalah remaja. Menurutku ini adalah pekerjaan yang paling hebat untuk remaja seumuranku, 19 tahun, lima bulan lagi aku 20 tahun.
Aku membuka file kerjaku di komputer milik perusahaan. Aku belum mencari informasi tentang special news yang akan dimuat di majalah untuk minggu depan. Kata Minji eonni, atasanku, file-file fotonya telah ia simpan di komputer ini. Jadi aku tinggal mengeditnya saja. Betapa mudahnya bekerja disini. Tak perlu pontang-panting tak tahu apa yang akan dikerjakan, hanya membuka komputer, lalu mengedit. Oh ya, jangan lupakan soal gaji yang akan aku terima setiap awal bulan. Gajinya sebesar biaya sewa apartemen dan tagihan telepon serta internetmu setiap bulannya. Sungguh beruntung aku bisa diterima bekerja disini.
Ku buka file foto yang telah disediakan Minji eonni untuk di-edit, ASTAGA! Foto itu... Namja itu... benarkah ia?
[flashback start]
"Woon, aku senang kita akhirnya bisa berjalan-jalan bersama..."
"Ne. Aku juga. Aku senang sekali bisa berjalan-jalan denganmu, Rin." namja itu tersenyum padaku. Ia telah mengantarkanku sampai di depan rumah setelah kami berjalan-jalan memutari tempat-tempat menyenangkan di Seoul.
"Baiklah, Woon. Jeongmal gomawoyo untuk hari ini, juga karena telah mengantarkanku dengan selamat lahir dan batin sampai di depan rumah." Kataku agak menggodanya.
"Ya! Apa maksudmu, Yang Minrin! Memangnya aku namja tidak becus sehingga akan mencelakaimu ketika kau sedang bersamaku?" Ujarnya sambil tertawa dan menjitak kecil kepalaku.
"Aduh! Kau ini.... Kasar sekali dengan wanita..." aku mengusap-usap kepalaku yang telah dijitaknya.
"Hahaha... kau sendiri yang bilang kalau kau ini wanita kuat... Ya, kan? Kenapa dijitak saja kesakitan, hah?" katanya sambil mengacak rambutku.
"Hei! Apa-apaan kau ini? Kau suka sekali menyentuh kepalaku!" kataku sambil mengalihkan tangannya dari kepalaku.
"Kau tidak suka?" tanyanya dengan memasang wajah polos.
"Ne. Tepat sekali. Aku tidak suka, Son Dongwoon!" aku meninju lengan kanannya.
"Oh ya sudah kalau begitu, Putri-Yang-Tidak-Suka-Dengan-Son-Dongwoon. Hamba mohon pamit untuk pulang, karena sekarang sudah hampir jam sepuluh malam. Tuan Putri harus beristirahat yang cukup, jangan lupa mengunci pintu rumahmu dengan benar atau aku akan mengutil di rumahmu ketika tengah malam tiba. Annyeonghi gyesseyo, Our Beloved Princess..." katanya manis dan melangkah menjauh dariku. Aku tersenyum.
"Ya! Begitukah caramu berpamitan, Woon? Sangat tidak sopan!" kataku sok marah.
"Bye bye, Princess!" Ia membalik badannya sebentar dengan melambaikan tangannya. Lalu kembali melangkah pergi.
"Jalkke, My Lovely Prince." aku tidak berteriak. entah ia mendengar atau tidak. Karena ia sudah cukup jauh dariku.
**********
Esoknya aku memberanikan diri untuk mengatakannya. Sudah lama perasaan ini ku pendam sendiri. Bahkan Lee Eunra, sahabatku pun tak tahu tentang yang satu ini. Aku ingin mengatakan padanya, aku ingin dia tahu, hanya itu. Tak lebih. Karena kedekatan antara dia dan aku selama ini sudah seperti orang yang memiliki hubungan khusus. Dia harus tahu. Son Dongwoon, kau harus tahu. Apalagi setelah kemarin, sejak sore hingga malam hari kau tulus menemani aku yang manja ini berjalan-jalan keliling Seoul. Aku semakin yakin.
Kuhampiri dia yang sedang duduk bersandar pada pohon yang rindang di dekat taman sekolah. Ia terlihat nyaman sekali dengan earphoneyang terpasang ditelinganya. Sesekali ia menggumam mengikuti lirik lagu yang ia dengarkan, dengan mata yang terpejam.
"Woon." aku mencolek bahunya. Ia mengerjap. Lalu melepas earphone-nya dan menatapku.
"Eh-- Ne, ada apa, Rin?" ia menepuk tanah di samping tempat yang ia duduki. "Duduklah."
Aku pun menurutinya. Aku duduk tepat di sampingnya. Ya Tuhan. Detak jantungku tiba-tiba tak menentu. Dag dig dug dag dig dug. Ya Tuhan... aku ingin mengatakannya sekarang. Tapi detak jantungku ini sungguh tak normal, bagaimana aku akan mengatakannya dalam kondisi yang seperti ini?
"Ada apa, Rin? Apa ada yang ingin kau katakan?" Dongwoon seakan ingin mencoba mencari jawabannya sendiri dengan menatap mataku.
"A.. a.. ani..." Ya Tuhan, sekarang lidahku terasa kelu. Bagaimana aku mengatakannya. Padahal tadi pagi sebelum sarapan aku telah berlatih.
"Kau yakin?" Dongwoon menatapku sekali lagi. Aku hanya mengangguk. "Baiklaaaah... temani aku saja disini..." Ia memasang earphone-nya kembali dan menyandarkan diri ke pohon. Aku harus mampu untuk mengatakannya!
"Woon..."
"mmm?"
"Aku... aku mencintaimu." Dongwoon langsung terhenyak dari duduknya.
"Kau bilang apa, Rin?" ia seolah tak percaya dengan pendengarannya yang terganggu earphone. Ia melepas earphone-nya.
"Aku mencintaimu, Woon." aku mengulangi perkataanku sambil menunduk. Aku malu.
"Tidak. Tidak mungkin." Dongwoon mengumpat sendiri dengan memalingkan wajahnya.
Ya Tuhan! Dia tidak mencintaiku? Sebenarnya aku siapa dalam hidupnya? Kurasa hubungan kami sudah seperti sepasang kekasih. Atau... apakah aku yang salah mengartikan sikapnya selama ini padaku? Telepon di malam hari untuk mengecek aku sudah tidur atau belum. Pesan singkat agar aku berhati-hati dalam perjalanan ke sekolah yang selalu tepat saat aku mengunci pintu rumah. Menyapaku setiap pagi di pintu kelas. Menungguku di gerbang sekolah untuk pulang bersama setiap hari. Mengajakku makan di luar ketika mendapat uang saku lebih. Joggingbersama setiap hari minggu satu bulan dua kali. Apakah aku salah menafsirkannya?
Tak terasa air mataku menetes sebulir. "Rin..."
"Aku tahu kau tidak akan pernah menerima cintaku, Woon..."
"Rin..."
"Baiklah, aku akan pergi dari sini... annyeonghi gyesseyo, Woon..."
"Rin! Yang Minrin!"
[flashback end]
Ya Tuhan... apa benar foto namja itu adalah dia? Hidungnya... Aku tak percaya. Keterangan gambarnya tertulis, "Son Dongwoon, bintang baru dunia fotografi." Sejak kapan ia menyukai fotografi? Bukankah ia suka menyanyi? Seberapa banyak hal yang aku lewatkan darinya dua tahun ini?
Dongwoon. Sahabatku. Cinta pertamaku. Ku kenal pertama saat tahun ajaran pertama di SMA, ia memetik gitarnya sambil bernyanyi lirih. Sayup-sayup kudengar alunan lagu cinta yang dinyanyikannya dengan segenap perasaan. Entah aku jatuh cinta dengan permainan gitarnya, suaranya, atau dengannya secara fisik. Entah. Sejak saat itu aku sering memperhatikannya. Hingga ia menyadari ada orang yang selalu menikmati permainannnya diam-diam. Masih ku ingat saat itu ia mengajakku berkenalan. Senyum khasnya. Dan hidungnya. Mungkin saat itu Tuhan menciptakannya saat sendang ber-mood baik. Sebaliknya saat menciptakan aku. Mood Tuhan sedang tidak begitu baik karena ulah manusia yang semakin menjadi setiap saat.
Dongwoon. Dongwoon. Lalu kami berteman, bersahabat, hingga tak ada jarak diantara kami. Dan hingga saat-saat sebelum kelulusan. Dan terjadi kejadian yang paling kusesali seumur hidup. Mengapa aku tetap nekat mengatakannya. Satu kalimat yang benar benar meranggangkan hubunganku dengannya. Yang pada akhirnya aku berpisah dengannya saat meneruskan ke perguruan tinggi.
Dongwoon. Dongwoon. Dongwoon. Entah dia sekarang berkuliah dimana. Sedangkan aku berkuliah di Inha University sambil bekerja disini. Aku bekerja untuk melupakan dia. Tapi juga karena aku suka dengan editting. Aku mengambil jam kuliah malam. Jam enam sore hingga malam --tak tentu. Dan paginya harus bekerja.
"Ya! Apa yang kau lakukan, huh?!" suara Minji eonni membuyarkan lamunanku.
Aku terkesiap, "Ah-- mianhae eonni. Aku hanya kepikiran sesuatu." Minji eonni atasanku. Tapi aku tetap memanggilnya eonni karena ia sendiri yang menyuruhku. Agar suasana lebih akrab, katanya.
"Apa itu? Boleh Eonni tahu?" Minji eonni mendekatiku. Ia memandang layar komputerku.
"Namja ini? Nuguya? Namjachingu?"
"Eh-- tentu saja tidak, Eonni!" aku mengelak. Dia bukan kekasihku. Bahkan dia menolakku seketika.
"Ah, tapi mengapa kau menatapnya seperti itu? Kau suka padanya?" Minji eonni menyenggolku dengan sikunya,
"Tidak..." aku mengelak lagi. "Hanya saja..."
"Besok dia kemari... Eonni ingin mewawancarai dia lebih lanjut, tidak via telepon saja seperti kemarin. Jika kau benar-benar menyukainya, siapkanlah dirimu sebaik mungkin. Kemarin dia sempat bilang kalau dia punya kekasih yang bekerja disini. Dia ingin melamar yeoja itu untuk menjadi istrinya. Siapa tahu jika kau bisa memikat perhatiannya besok, ia akan membatalkan rencananya itu dan beralih untuk melamarmu." cerita Minji eonni panjang lebar.
Deg. Kekasih? Dia sudah punya kekasih? Dongwoon? Kekasihnya bekerja disini? Siapa? Beruntungnya yeoja itu. Dongwoon... Aku rela kau menikah dengan siapapun, aku tak akan marah, aku tak akan dendam. Asalkan kau bahagia, Prince...
**********
-Author POV-
Esoknya Minrin datang terlambat ke kantornya dengan perasaan yang tak dapat dimengerti. Ia senang, karena mungkin ia berkesempatan untuk bertemu dengan Dongwoon lagi. Namun di lain sisi ia cukup sedih, karena Dongwoon akan melamar kekasihnya di kantor Minrin.
Ia memang sengaja datang sangat siang hari ini. Karena ia berpikir, Dongwoon sudah pulang saat siang hari.
Namun rasanya pemikiran Minrin itu salah. Ketika ia masuk ke ruangannya, ia melihat Dongwoon sedang duduk di kursinya, bersama Minji yang berdiri disamping Dongwoon.
Minji yang menyadari kedatangan Minrin, segera beranjak menarik Minrin ke hadapan Dongwoon.
"Eonni! Apa-apaan ini? Jangan tarik aku padanya... Jebal..." Minrin memohon, namun Minji makin menariknya.
"Hei, sudah turutilah atasanmu ini. Kau jangan berbohong lagi padaku. Kau kekasih Dongwoon kan? Mengapa kau bohong kemarin?" Minji menghakimi Minrin ditengah tarikannya.
"M... mwo??? Kekasih?!" Minrin kebingungan.
**********
-Dongwoon POV-
Aku tersenyum melihat Minji noona menarik Minrin kehadapanku. Akhirnya. Aku dapat menemukanmu lagi, Rin...
Aku menyesali saat itu... Mengapa aku tidak mempercayai hatiku sendiri. Padahal aku tahu, aku tak pernah ingin jauh darimu, Rin... Tapi kenapa saat itu aku malah membuatmu salah paham dengan ucapanku? Ah. Memang saat itu akulah yang salah.
Minji noona berhasil membawa Minrin kehadapanku yang sedang duduk di kursi tempat kerjamu. Aku tak habis pikir mengapa kau bekerja seperti ini, Rin... Bukankah almarhum ayahmu pernah berkata, pendidikanmu adalah hal utama yang harus kau capai.
"Dongwoon-ssi, ini dia Minrin mu!" ujar Minji noona bersemangat. Sepertinya Minji noona sangat mendukung rencanaku.
"Kamshamnida, noona." aku membungkukkan badan sedikit pada Minji noona. "Annyeong, Princess..." aku menyapa Minrin-ku yang menunduk.
"Annyeong, Woon." dia tersenyum. Senyum yang kurindukan. Aku senang ia tetap memanggilku dengan cara yang sama seperti dulu.
"Bagaimana kabarmu?" tanyaku singkat.
"Baik-baik saja. Lalu bagaimana denganmu?"
"Semuanya berubah saat aku tanpamu..." aku menatapnya dalam.
"Ne? Bagaimana maksudmu?"
Aku menjatuhkan diri, berlutut dengan bertumpu pada satu kaki. Aku meraih tangannya. Ia nampak terkejut. "Rin... kau tahu, ketika kau mengatakan 'Aku Mencintaimu' kepadaku, sungguh aku tak dapat mempercayainya..."
"Ne, gwenchanna. Aku memang salah menafsirkan sikapmu, Woon." Minrin memotong kata-kataku.
"Ani... Aniyoo~~ bukan begitu, Dengarkanlah aku terlebih dahulu. Saat itu aku tidak dapat mempercayainya, bahwa kau akan mengatakannya terlebih dahulu dibandingkan aku. Seharusnya akulah yang mengatakannya sebelum kau." Minrin terkejut lagi. "Karena saat itu aku tak percaya pada kemampuanku sendiri untuk menjagamu. Aku takut setelah aku menyatakan cintaku, kau sering sedih. Padahal kebahagiaanmu-lah yang ku inginkan. Tapi aku sendiri takut untuk mengatakannya. Aku saat itu tak percaya pada diriku sendiri. Aku tak percaya kalau aku bisa menjagamu dan membahagiakanmu,"
"Eh?"
"Kau tak paham? Begini. Singkat cerita, sebenarnya aku ingin mengatakan 'Aku Mencintaimu' sejak saat kita berkenalan, Rin..." kataku santai, namun dengan penekanan.
"Maksudmu, kau..." Minrin masih sulit mencerna kata-kataku yang terlalu cepat.
"Saranghae." aku mengecupnya sekilas. Kedua mata Minrin membelalak. "Saranghaeyo, Minrin. Jeongmal saranghae. Tidak ada lagi kata-kata yang bisa menggambarkan perasaan ini..."
Sebulir air mata Minrin jatuh. "Heiii... uljimaa... kenapa kau menangis, jagi?"
"Na ddo." jawabnya singkat.
"Eh?" sekarang aku sendiri yang keheranan.
"Na ddo saranghae, Woon." ulangnya, lalu aku bangkit dan mendekapnya erat. Aku benar benar bahagia bisa mengucapkan itu, dan Minrin pun membalasnya.
"Kalau begitu, sekarang..." aku melepaskan pelukanku padanya. Aku merogoh saku ku dan mengeluarkan kotak kecil, lantas membukanya. Sebuah cincin yang telah lama kusiapkan tampak jelas di hadapan matanya. "Will you marry me?"
Minrin menatapku tak percaya. "Woon..." matanya kembali berkaca-kaca.
"Bagaimana jagi?"
"Yes, I will." aku melonjak bahagia, lalu aku pakaikan cincin itu di jarinnya. Lalu aku mendekapnya lagi. Erat.
"Woon... jeongmal gomawo telah membuat mimpiku menjadi nyata..."
"Ne, cheonmaneyo... aku akan menjagamu. Aku akan kembali seperti Woon-mu yang dulu. Woon-mu yang memainkan gitar dan bernyanyi untukmu. Woon-mu yang mengajakmu jalan-jalan keliling Seoul. Woon-mu yang selalu ada untukmu. Janji..." aku mengecupnya lagi. Namun kali ini lebih lama. Karena aku, dan Minrin, mencintai satu sama lain...
And baby
Everytime you touch me
I become a hero
I’ll make you safe
No matter where you are
And bring you
Everything you ask for
Nothing is above me
I’m shining like a candle in the dark
When you tell me that you love me
******END********
yeeeeeeee akhirnya tepat jam 1:49 am, Selasa 22 Maret 2011, oneshot pertamaku kelar! yeeeee!!! *joget wonder boy* :D
mianhae kalo aneh, mianhae kalo ga nyambung. kritik dan saran senantiasa dinantikan oleh author. maklum masih belajar... ^^ BCL yaaaa!! ^^
buat NitaKirana TripleSkpop Beauty, aku izin pake fotonya Dongwoon yaaa.... ^^
No comments:
Post a Comment